Ada momen tertentu saat nonton film di mana kita merasa sangat yakin dengan penilaian sendiri. “Oh, ini orang baik.” Atau, “Yang ini jelas bermasalah.”
Rasanya aman, nyaman, karena cerita seolah mengarahkan kita ke sana.
Tapi lalu, pelan-pelan, rasa yakin itu mulai retak. Crack!
Percaya, deh, rasanya nggak enak. Kita mulai sadar bahwa mungkin kita terlalu cepat menilai.
Dan justru di situ film-film tertentu bekerja dengan sangat licik. Mereka tidak langsung membohongi kita, tapi membiarkan kita terjebak oleh asumsi sendiri.
Kamu pernah ngerasain hal itu juga, nggak?
Berikut 5 film yang, entah bagaimana caranya, berhasil membuat penonton salah menilai tokoh utamanya sejak awal.
1. Fight Club (1999)
Di awal Fight Club, tokoh utamanya terlihat seperti orang kebanyakan.
Capek kerja, hidup terasa kosong, susah tidur. Jujur saja, gampang untuk merasa, “Ya ampun, gue banget.”
Lalu muncul Tyler Durden. Karismatik, bebas, serta berani melawan sistem.
Banyak orang, waktu pertama nonton, langsung menganggap dia semacam pahlawan alternatif. Namun, semakin lama film berjalan, ada rasa nggak nyaman yang pelan-pelan muncul.
Kok ini arahnya makin gelap, ya?
Di titik tertentu, kita dipaksa menyadari bahwa simpati sejak awal mungkin salah arah.
Film ini bukan cuma soal plot twist, melainkan bagaimana kita bisa ikut terseret sudut pandang tokoh utama tanpa sadar. Gila, ya!
2. Gone Girl (2014)
Film ini licik sejak menit pertama. Kita diperkenalkan pada situasi yang, jujur saja, terasa familiar. Pada sosok suami yang tampak aneh, kurang empati, dan kelihatan menyembunyikan sesuatu.
Otak penonton pun langsung bekerja, menyusun kesimpulan sendiri.
Masalahnya, Gone Girl tahu persis cara memanfaatkan kebiasaan itu.
Saat kebenaran mulai terungkap, penonton dipaksa menelan ulang semua penilaian awalnya. Rasanya seperti ditampar pelan, tapi nyesek nggak, sih?
Sepakat nggak kalau film ini bikin kita mikir ulang soal betapa mudahnya publik, termasuk kita, menghakimi seseorang?
3. Joker (2019)
Arthur Fleck muncul sebagai sosok yang rapuh, kesepian, dan terus dipinggirkan. Sulit untuk tidak merasa kasihan.
Bahkan di beberapa bagian, ada dorongan untuk membelanya.
Tapi di sinilah jebakannya. Joker membuat empati terasa sangat dekat dengan pembenaran.
Kita diajak memahami penderitaannya, lalu dibiarkan bergulat sendiri dengan pertanyaan, “Sampai sejauh mana empati itu layak diberikan?”
Banyak penonton keluar bioskop dengan perasaan campur aduk.
Dan jujur saja, itu bukan karena filmnya gagal. Justru karena film ini berhasil memaksa kita bercermin. Nggak nyaman, tapi memang begitu apa adanya.
4. The Wolf of Wall Street (2013)
Jordan Belfort diperkenalkan dengan cara yang sangat menggoda. Hidupnya terlihat penuh kebebasan, uang, pesta, dan kepercayaan diri.
Tanpa sadar, penonton diajak menikmati semua itu.
Kita tertawa, ikut terhibur, bahkan mungkin sedikit iri.
Hanay saja, coba berhenti sebentar dan tarik napas. Film ini sebenarnya sedang menunjukkan betapa rusaknya gaya hidup tersebut. Masalahnya, pesona sang tokoh terlalu kuat.
Banyak orang baru menyadari kritik film ini setelah selesai menonton. Bahkan malah setelah dipikir ulang beberapa hari kemudian.
Kamu juga sempat terjebak, iya kan?
5. Parasite (2019)
Awalnya, keluarga Kim terasa seperti korban keadaan. Miskin, terpinggirkan, dan harus kreatif demi bertahan hidup.
Penonton dengan mudah berpihak pada mereka.
Namun semakin cerita berjalan, rasa simpati itu menjadi rumit.
Tidak ada karakter yang benar-benar bersih. Sebaliknya, tidak ada juga yang sepenuhnya jahat.
Parasite membuat kita sadar bahwa realitas sosial sering kali abu-abu, dan penilaian moral tidak selalu sesederhana yang kita harapkan.
Di akhir film, banyak penonton justru lebih sibuk merenung daripada mencari “siapa yang salah”. Susah dilupakan!
Walau Keliru, Tetap Seru
Film-film seperti ini seolah tidak memberi kenyamanan. Mereka mengganggu.
Justru karena itulah, filmnya bertahan lama di kepala. Kita tidak hanya mengingat ceritanya, melainkan perasaan saat sadar bahwa penilaian awal kita ternyata keliru.
Kalau kamu suka film yang tidak sekadar menghibur, tapi juga mengajak berpikir ulang tentang sudut pandang sendiri, temukan banyak pembahasan film dengan pendekatan serupa di blogpalette.com.
Di sini, film dibahas bukan cuma dari apa yang terlihat di layar, tapi juga dari pengalaman menontonnya.
Karena kadang, film terbaik adalah yang berani membuat kita ragu pada penilaian sendiri. Iya, nggak?


